Saya mengawali usaha ini dari penjualan jamu pada tahun 1995, sampai dengan tahun 1999. Selanjutnya pada akhir tahun 1999, Aceh mengalami krisis besar konflik yang membuat masyarakat Aceh merasakan kesulitan dalam menjalankan roda perekonomiannya. Begitu juga yang pernah saya rasakan sendiri. Saat itu, usaha yang saya lakukan juga mengalami ancaman, misal saja masyarakat Suku Jawa yang menjadi partner kerja memilih untuk mengungsi kembali ke tanah Jawa,meninggalkan Aceh. Dengan itu juga mnenjadi sebuah hambatan bagi kegiatan saya. Dari sana, saya mengambil inisiatif untuk menjalankan usaha gilingan bumbu, tepung dan kopi. Menerima jasa dengan cara diongkos oleh masyarakat.
Dari saya terpikir untuk melakukan kegiatan menggiling kopi sedikit demi sedikit seperti yang pernah saya lakukan saat masih muda. Ilmu tersebut juga saya dapatkan karena kemauan untuk belajar dari rekan yang telah lebih mampu melakukan itu, sekalian saya juga bekerja padanya.
Pada Tahun 2000, perlahan saya sudah semakin antusias untuk menjalankan kegiatan usaha bubuk kopi, dan ini berjalan sampai saat ini.
Sejauh ini, usaha ini sempat juga terbentur dengan kendala seperti umumnya sebuah usaha bisnis lainnya, terkendala dengan persoalan modal yang sulit didapat. Pada 2006, sebagai rangkaian dari program on post Tsunami, Mercy Corp memberikan bantuan berupa bantuan kredit lunak. Dari modal tersebut saya perguanakan untuk membngkitkan usaha yang sempat terjhenti oleh Tsunami yang melanda Aceh pada 2004. Selain itu, pada 2009 persisnya pada Mei, saya juga dibantu peralatan kerja seperti mesin penggerak seharga Rp 14.850.000 dari lembaga PINBIS. Untuk itu, lewat media ini saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua lembaga tersebut yang telah berperan cukup penting dalam upaya menjalankan usaha bisnis ini.
5.351273
95.562370